Tampilkan postingan dengan label Catatan Kuliah Kitab Suci. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Kuliah Kitab Suci. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Januari 2012

Doa Permohonan Pribadi (Mazmur Kontemporer)


Oleh: Nicolas Renleuw
Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng


Dengan kepala tertunduk dan hati terangkat†
Kuhaturkan segala pergumulan hidupku*
Dengarkanlah jeritan hatiku ya Tuhan
Mengapa Engkau begitu kabur dari pandanganku*
Sebab mataku tak mampu menangkap kemuliaan-Mu
Aku berjalan menelusuri lorong gelap*
Tatapanku tak mampu menjangkau Penolongku
Mengapa Engkau begitu samar dari pendengaranku*
Sebab telingaku tak berdaya menangkap gema keagungan-Mu
Seakan tak berujung lorong gelap yang harus kulalui*
Kakiku letih untuk berjalan dalam ketidakpastian
Aku begitu kecil dan sendirian di desa global ini*
Tak ada yang peduli dengan ketidakadilan yang kualami
Aku begitu terasing dari persaingan menuju kemuliaan-Mu*
Bahkan kemajuan teknologi pun tak mampu member penghiburan bagiku
Semua orang sibuk dengan dirinya masing-masing*
Tak berdaya maupun tak peduli ada sesama yang membutuhkan uluran tangan di sampingnya
Begitu berdosakah aku di hadapan-Mu ya Tuhan*
Mengapa aku begitu terasing dari realitas dunia nyata dan dunia maya di sekitarku
Tinggal sedikit iman dan kepasrahan kepada-Mu yang masih kupunya*
Tetapi aku mau belajar lagi untuk berharap dan berserah kepada penyelenggaraan tangan kasih-Mu
Sebab terlalu indah rancangan-rancangan-Mu dalam sejarah hidupku*
Segenap kemampuan rasioku tak dapat menyangsikan kebesaran kasih-Mu
Hanya Engkaulah Allah yang peduli dan setia dalam hidupku*
Angkatlah aku dari dalam lorong gelap ini
Bangkitlah, dan tolonglah aku, ya Allahku!*
Ya, hanya Engkaulah yang mampu mengisi kekosongan jiwaku
Engkaulah satu-satunya pokok keselamatan dan tujuan hidupku*
Dari Tuhanlah segala pertolongan dan berkat atas umat-Mu

Jumat, 20 Januari 2012

NASIHAT-NASIHAT KEPADA JEMAAT (Flp 3:17-4:9)



NASIHAT-NASIHAT KEPADA JEMAAT
(Flp 3:17-4:9)
Oleh: Nicolas Renleuw
Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng

I.    Keterangan Ayat[1]
a.   Ikutilah Teladanku (3:17)
Paulus tidak ragu-ragu mengajak umat Filipi agar bersama-sama mengikuti teladan Paulus dan beberapa orang lain yang sesudah diteliti dengan seksama (skopeo, lihat ay. 14), terbukti hidup pada tingkatan yang sama tingginya, yakni karena ia adalah seorang peneladan Kristus yang setia meski tidak sempurna. Typos (teladan) pada mulanya berarti tanda bekas pukulan, kemudian berarti "pola" atau "cetakan." Mungkin yang dimaksudkan Paulus ialah berpikir dan bersikap sepertinya terhadap hal bersunat dan hukum taurat sehingga mereka tetap menolak segala anjuran palsu.
b.   Banyak Orang…Seteru Salib Kristus (3:18)
Sebagian ahli berpendapat bahwa yang dimaksudkan ialah orang-orang Kristen berhaluan Yahudi, yang juga dimaksudkan dalam Flp 3:2. Mereka ini diidentikan sebagai orang-orang yang mengaku percaya tetapi mencemarkan Injil dengan cara hidup yang tidak susila dan ajaran palsu. Mereka beranggapan bahwa hukum taurat dan hal bersunat sebagai suatu syarat mutlak untuk dibenarkan. Dengan demikian mereka menyangkal bahwa salib Kristus adalah satu-satunya sumber penyelamatan (Bdk. Gal 5:11 dan Gal 6:12-14.) dan karena itu salib merupakan batu sandungan bagi mereka (Bdk.Gal 5:11 dan 1 Kor 1:23).
Namun sebagian lainnya berpendapat bahwa Yang dimaksud dengan seteru salib Kristus bukanlah golongan Yudaisme (ay. 2 dst.) juga bukan golongan kafir (ini tentu akan menimbulkan reaksi yang berbeda dengan menangis), melainkan orang-orang penganut Libertin yang dalam hal tertentu terkait dengan gereja itu. Mereka menafsirkan kebebasan Kristen secara salah sebagai kebebasan dari segala batasan moral. Mereka adalah (bukan "hidup sebagai") seteru salib Kristus. Mereka memusuhi segala sesuatu yang berpihak pada salib.
c.    Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut…aib…perkara duniawi  (3:19)
Kesudahan mereka adalah kebinasaan, lawan dari keselamatan. Tuhan mereka, hal yang paling utama bagi mereka, adalah perut. Yang dimaksudkan bukan hanya kerakusan tetapi segala bentuk pemuasan nafsu. Kebebasan yang mereka sangka benar sebetulnya adalah perbudakan oleh nafsu yang memalukan dan mereka ditentukan untuk memikirkan hal-hal yang kotor dan duniawi.
d.   Kewargaan kita adalah di dalam sorga…Juruselamat (3:20-21)
Sekalipun politeuma (‘kewargaan’, hanya dipakai satu kali dalam Perjanjian Baru) mungkin menunjuk kepada pola hidup yang dianut seorang warga, yang dimaksudkan di sini ialah negeri di mana dia menjadi anggota warganya. Para warga Romawi yang tinggal di perbatasan seperti Filipi akan langsung mengerti apa yang dimaksudkan. Orang-orang Kristen yang dewasa hidup sebagai sekelompok warga surgawi dan menghidupi nilai-nilainya yang tinggal di bumi untuk sementara. Banyak sahabat dan kerabat kita sudah di sana, dan tidak lama lagi kita pun akan berada di sana. Yesus juga di sana, sambil menyiapkan tempat untuk kita, dan ia telah berjanji akan kembali dan membawa kita untuk tinggal bersama Dia.
e.    Karena itu…dengan teguh…mahkota (4:1)
Karena itu, mengingat kewarganegaraan surga yang engkau miliki dan perubahan gemilang yang akan terjadi karenanya. Nasihat berdirilah dengan teguh merupakan penutup pasal 3 dan sekaligus pendahuluan pasal selanjutnya. Perhatikan enam sebutan kasih sayang dalam satu ayat ini. Stephanos, mahkota merupakan sebuah rangkaian daun berbentuk bulat yang dibuat khusus untuk atlit yang memenangkan perlombaan. Kata ini juga dipakai untuk karangan bunga yang dikalungkan pada tamu di dalam sebuah perjamuan. Jadi, mahkota merupakan tanda kemenangan dan perayaan.
f.     Euodia dan Sintikhe…kunasihati…sehati sepikir (4:2)
Euodia dan Sintikhe adalah dua orang perempuan yang diduga adalah tokoh-tokoh terkemuka dalam umat di jemaat Filipi yang belakangan mulai saling menjengkelkan, padahal perselisihan mereka sangat mempengaruhi suasana umat.Pengulangan kunasihati menunjukkan bahwa Paulus tidak berpihak. Sehati sepikir berarti kembangkan keselarasan pikiran dan watak (bdk. 2:2).
g.   Sunsugos… teman yang setia…Berjuang dengan aku…Klemens…kitab kehidupan (4:3)
Nama Yunani Sunsugos (Suzigus) berarti: teman, rekan sekerja
( bdk. Fil 10-11). Suatu permainan kata dengan arti tertentu. Untuk mempermudah terjadinya damai Paulus merujuk kepada Sunsugos yang sesuai dengan arti namanya, benar-benar merupakan seorang teman yang setiaSunsugos rupanya adalah teman seseorang yang diperoleh ketika dibabtis. Jika hanya sebutan saja, dugaan tentang siapa yang dimaksudkan bisa ditarik mulai dari Silas hingga istri Paulus yang diduga bernama Lidia. Synethlesan (Berjuang dengan aku) merupakan kiasan yang diambil dari gelanggang pertempuran gladiator (bdk. Flp 1:27). Klemens mungkin ditambahkan untuk mengingatkan mereka akan peristiwa tertentu. Rujukan kepada kitab kehidupan yang didalamnya terdaftar para anggota persemakmuran surgawi memberikan kesan bahwa Klemens dan kawan-kawan mungkin telah mengorbankan hidup mereka ketika surat ini ditulis.
h.   Senantiasa…bersukacitalah… dalam Tuhan… kebaikan hati …Tuhan sudah dekat (4:4-5)
Chairete (bersukacitalah) adalah sebuah ungkapan perpisahan yang umum dipakai. Penambahan kata senantiasa menunjukkan bahwa yang ada dalam pikiran Paulus adalah artinya yang lebih dalam, Pengulangan bersukacitalah menunjukkan bahwa keadaan di Filipi adalah sedemikian rupa sehingga nasihat semacam ini rasanya tidak masuk akal. Orang Kristen dapat diperintahkan untuk bersukacita, sebab sumber sukacita mereka bukan dalam situasi tetapi dalam Tuhan. Kata yang agak sulit diartikan epieikes (kebaikan hati) menunjuk kepada kesediaan untuk mendengarkan alasan, kesediaan untuk tidak membalas. Motivasi bagi "sikap manis" ini adalah kedatangan kembali Kristus yang sudah dekat. Tuhan sudah dekat, kata-kata sandi dari gereja mula-mula (bdk. kata Aram yang sama artinya maranatha, dalam I Kor. 16:22).
i.     Di dalam segala hal …Dengan ucapan syukur (4:6)
Permusuhan dari kalangan kafir (bdk. Flp 1:28) dapat menimbulkan kekhawatiran. Hal ini harus dihilangkan dengan doa. Di dalam segala hal, semua yang dapat menimbulkan kekhawatiran jika tidak didoakan. Dengan ucapan syukur, bersyukur atas apa yang telah dilakukan Allah merupakan sikap yang tepat untuk mengajukan permohonan baru.
j.     Damai sejahtera Allah …yang melampaui segala akal… Akan memelihara (4:7)
Damai sejahtera Allah ialah ketenangan yang dimiliki Allah dan hanya Allah yang dapat memberikannya. Frasa, yang melampaui segala akal, pada umumnya dipahami sebagai ketidakmampuan mutlak dari pikiran manusia untuk memahami kedalaman damai sejahtera Allah ini. Mungkin lebih tepatnya ungkapan ini berarti bahwa damai sejahtera Allah jauh melampaui semua perencanaan cermat dan gagasan cemerlang kita untuk mengatasi kekhawatiran kita. Akan memelihara. PhoureƵ,"memelihara," adalah sebuah istilah militer yang berarti "menjaga atau membentengi." Dengan memakai kiasan yang jitu Paulus melukiskan damai sejahtera Allah sebagai seorang pengawal yang bertugas menjaga di gerbang kehidupan batiniah seseorang - pikiran, kehendak dan perasaan.
k.    Yang benar…Yang mulia…Yang adil…Yang suci…Yang manis...Yang sedap didengar… Semua yang disebut kebajikan…Pikirkanlah (4:8)
Di dalam "paragraf tentang kesehatan batin" ini Paulus mengemukakan sejumlah kebajikan yang mungkin sekali berasal dari tulisan seorang tokoh etika Yunani. Dua dari delapan kebajikan yang tercantum tidak disebutkan di bagian Perjanjian Baru mana pun, dan satu hanya muncul di dalam surat ini saja. Yang benar, berkaitan dengan sifat yang nyata dan hakiki. Yang mulia, layak untuk dihormati, dimuliakan. Yang adil, sesuai dengan konsepsi yang tertinggi tentang apa yang benar. Yang suci, tidak tercampur dengan unsur-unsur yang akan merendahkan martabat jiwa. Yang manis, yang mengilhamkan kasih. Yang sedap didengar, segala sesuatu yang enak untuk didengar. Semua yang disebut kebajikan. Oleh Lightfoot diparafrase menjadi "Apa pun yang masih bernilai di dalam konsepsi kafirmu yang lama tentang kebajikan", dengan maksud untuk menekankan pertimbangan Paulus untuk tidak mengabaikan sumber rujukan yang ada. Mereka diperintahkan. Pikirkanlah (logizomai:  maksudnya, resapkan) semua kebajikan kafir tersebut.
l.      "Lakukanlah itu" … Allah sumber damai sejahtera (4:9).
Di samping itu mereka diperintahkan, "Lakukanlah itu" (Kata perintah prasette adalah dalam bentuk waktu sekarang), yaitu semua moralitas dam etika khusus Kristen yang telah mereka pelajari dari kehidupan dan ajaran sang rasul. Bukan hanya "damai sejahtera Allah" (ay. 7). namun juga Allah sumber damai sejahtera akan menyertai mereka.


II. Tafsiran Umum[2]
a.      Reformasi Hidup (3:17-21)
Kristen tidak lagi hidup secara daging. Rupanya di antara jemaat Filipi terdapat orang-orang yang memberi teladan salah. Mereka tidak menolak Injil dengan jalan mengandalkan usaha moral dan keagamaan mereka, sebaliknya mereka meniadakan kuasa Injil dengan menganjurkan kehidupan yang memenuhi nafsu tubuh (ayat 19). Dengan berbuat demikian, mereka hidup sebagai musuh salib Kristus (ayat 18). Kehidupan Paulus adalah contoh tentang bagaimana hidup Kristen seharusnya. Apabila anugerah Tuhan telah menjamah hidup kita, pastilah hidup itu akan mengeluarkan hal-hal yang benar.
Warganegara sorga. Dengan suatu kepastian yang kokoh, Paulus memberitahukan, bahwa jemaat Filipi adalah warga sorga yang tinggal di dunia ini (ayat 20). Keadaan jasmani kita kini bersifat sementara saja, sebab kelak kita akan diberikan tubuh surgawi yang mulia (ayat 21). Kita akan luput dari pengaruh keduniawian dengan hawa nafsunya yang membinasakan, bila kita ingat kedua kebenaran tersebut. Hiduplah sebagai warganegara sorga, bukan dunia ini.

b.      Undangan untuk mewujudkan sukacita: kesatuan, kegembiraan dan kedamaian (4:1-9)
Seperti Tuhan Yesus menjelang kematian-Nya berdoa untuk kesehatian para pengikut-Nya, kini Paulus dalam keadaan terpenjara pun mempedulikan keadaan gereja di Filipi. Ketidakserasian hubungan, apalagi itu terjadi di antara para aktivis seperti Euodia dan Sintikhe, adalah hal yang tidak baik dibiarkan. Paulus meminta keduanya bersikap sepadan dengan status mereka sebagai pewaris hidup kekal (ayat 3). Di dalam Kristus semua orang percaya adalah sesama pewaris Kerajaan. Karena itu, ia meminta juga warga jemaat lainnya (Sunsugos berarti sesama pemikul kuk) untuk turut berusaha mendamaikan kedua pelayan Tuhan itu. Hanya gereja yang warganya sehati terdapat kesukaan. Ini juga kondisi yang membuat pelayan Tuhan dan Tuhan melihat gereja sebagai sukacita dan mahkota (ayat 1).
Berbagai kesulitan seperti yang dialami gereja di Filipi wajar membuat mereka kurang bersukacita. Kekuatiran baik tentang kehidupan pribadi maupun gereja memang bisa membuat kesukaan menjadi sesuatu yang tidak akrab dalam pengalaman Kristen. Tetapi Paulus mengingatkan bahwa sukacita Kristen berasal dari Tuhan (ayat 4). Sebaliknya dari membiarkan kondisi sukar mempengaruhi sikap Kristen, Paulus meminta agar Kristen di Filipi secara aktif menyatakan kebaikan hati mereka (ayat 5). Status 'dalam Tuhan' yang menjadi sumber Kristen memiliki sukacita dan damai sejahtera tidak boleh dihayati oleh orang Kristen secara pasif. Hanya bila secara aktif orang Kristen memupuk status tersebut dalam doa, maka relasi dengan Tuhan itu menjadi komunikasi yang hidup dan hangat. Dalam kondisi demikian kekuatiran tak beroleh tempat sebab damai dan sukacita Allah sendiri penuh dalam hati orang percaya (ayat 4-7).
Intinya, untuk mewujudan sukacita tersebut, kekuatan dan daya kemanusiaan kita sendiri tidaklah cukup. Dibutuhkan keterbukaan pribadi pelayan untuk sehati sepikir dalam Tuhan Yesus Kristus. Singkirkan sikap mementingkan diri sendiri, acuh tak acuh, angkuh, karena itu hanya akan mendatangkan perpecahan, pertikaian, pertengkaran, perceraian, dlsb. Injil Kristus yang kita perjuangkan adalah Injil yang di dalamnya ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra, dan belas kasihan.
Ayat 8 sering disebut orang sebagai Pemikiran Positif ala Kristen.[3] Setelah lahir baru kita masuk ke dalam proses pengudusan yang berjalan seumur hidup. Pengudusan yang dikerjakan Tuhan mencakup seluruh aspek dalam hidup kita, salah satu yang sangat penting yaitu aspek pikiran.
Dalam dosa manusia suka memikirkan apa yang jahat dan tidak benar di mata Tuhan. Paulus mengajak jemaat di Filipi belajar mengontrol atau melatih pikiran untuk hal-hal yang baik. Banyak hal yang kita lakukan dipicu dan dikendalikan oleh apa yang kita pikirkan. Misalnya jika kita berpikir jahat tentang seseorang maka kita akan menyatakannya pula dalam relasi dan sikap kita terhadap dia. Ketika kita berpikir kotor kita didorong untuk melakukan hal yang kotor pula. Sebaliknya, apabila kita memikirkan apa yang benar, yang mulia, yang adil, suci dan seterusnya (ayat 8), kita juga akan melakukan hal-hal benar, mulia, adil, suci. Paulus sendiri mempraktikkan prinsip ini, sehingga ia dapat hidup tanpa didikte oleh keadaan (ayat 10-13).
Pikiran tidak memiliki kekuatan otonom untuk menentukan apa yang hendak dipikirkannya. Pikiran membutuhkan anugerah Tuhan agar dapat berfungsi dengan benar. Pengudusan pikiran adalah hal yang sangat penting. Dengan anugerah Tuhan kita melatih pikiran kita dengan jalan merenungkan firman Tuhan (ayat 8). Hal-hal dalam ayat 8 meliputi berbagai macam modus kehidupan. "Yang benar" mencakup aspek rasionalitas; "yang mulia" aspek ibadah; "yang adil" aspek hukum; "kesucian atau kemurnian" mencakup aspek kesalehan; "yang manis" aspek estetika; "sedap didengar" aspek informasi yang kita konsumsi; "kebajikan" berkaitan dengan moral dan etika; "patut dipuji" mencakup konsep nilai. Kekristenan mengajarkan keutuhan dan bukan keterkepingan. Jika hati kita telah dikuduskan oleh Kristus maka seluruh aspek hidup kita pun harus dikuduskan.


III.             Khotbah

SUKACITA YANG SEJATI

Saudara/i yang terkasih!
Mengawali khotbah ini saya mengajak kita sekalian untuk menengok ke kiri dan kanan kita sambil melemparkan senyum paling indah yang kita miliki kepada saudara-saudara yang ada di samping kita tersebut. Senyum merupakan simbol dari sukacita. Dengan tersenyum kita menularkan energi positif kepada saudara-saudara yang ada di sekitar kita. Tak ada penyangkalan bila ditanyakan apakah seseorang merindukan damai sejahtera dan sukacita dalam hidupnya. Bahkan berbagai usaha dilakukan untuk pemenuhan kedua hal tersebut. Namun tidak setiap saat kita bisa tersenyum. Kita bisa bertanya, sudah berapa kali saya tersenyum sepanjang hari ini. Jangan-jangan kita lebih banyak  cemberut dan muram dari pada tersenyum. Mungkin terlalu banyak masalah atau beban yang menghimpit kita. Terlalu banyak kecemasan yang ada dalam hati kita. Tetapi apakah itu menjadi alasan yang cukup bagi kita untuk berhenti tersenyum? Apakah cukup jika sukacita kita hanya terjadi saat-saat yang menyenangkan bagi kita saja?

Saudara/i yang terkasih!
Banyak orang beranggapan bahwa anjuran untuk senantiasa bersukacita sebagaimana yang dikemukakan Paulus kepada Jemaat di Filipi hari ini merupakan suatu ajakan yang kurang realistis dan mustahil untuk dilakukan. Tetapi perintah ini dianjurkan oleh orang dalam posisi menderita, Paulus, yang sementara di penjara kepada jemaat yang juga terancam aniaya. Inilah salah satu teladan Paulus yang kongkret. Ia mengawali ajakannya dengan mengkritik dan menentang para pengajar-pengajar palsu yang memberikan teladan salah dengan menganjurkan jemaat di Filipi untuk meniadakan kuasa Injil dan memelihara kehidupan dengan nafsu tubuh. Orang-orang inilah yang disebutnya sebagai seteru salib Kristus.
Paulus juga merasa prihatin dengan situasi umat Filipi yang memprihatinkan karena terjadinya perselisihan antar tokoh-tokoh umat yang seharusnya menjadi teladan bagi jemaat yang lain. Berbagai kesulitan seperti yang dialami gereja di Filipi tersebut wajar membuat mereka kurang bersukacita. Kekuatiran baik tentang kehidupan pribadi maupun gereja memang bisa membuat kesukaan menjadi sesuatu yang tidak akrab dalam pengalaman Kristen. Karena itu, Paulus mengajak mereka yang bertikai untuk berdamai dalam Kristus. Ia meminta atau menganjurkan mediator dari sesama saudara yang lain.

Saudara/i yang terkasih!
Ada berbagai cara yang ditempuh oleh manusia untuk mencapai damai sejahtera dan sukacita. Memang Paulus menganjurkan untuk melakukan sesuatu, tetapi bukan dengan cara askese (mengasingkan diri), mengkonsumsi obat penenang, kemaruk harta, budak uang, dlsb. Damai sejahtera dan sukacita tidak dapat diperoleh dengan cara-cara kedagingan.  
Memang mudah untuk kelihatan bersukacita ketika keadaan di luar menggembirakan. Tetapi demikian pula sangat mudah sukacita semacam ini berakhir. Paulus mengingatkan bahwa sukacita Kristen yang sejati berasal dari Tuhan (ayat 4). Orang Kristen harus tahu rahasia sukacita hati yang dalam dan menetap, yang tidak terpengaruh oleh keadaan luar. Sukacita itu dijanjikan sendiri oleh Yesus kepada para pengikut-Nya. Hanya dari Allah dan dekat dengan Kristus saja, hati dan pikiran kita boleh mengalaminya. Hanya oleh anugerah Allah dalam Tuhan Yesus sajalah mendatangkan sukacita terus-menerus dalam kehidupan kita.
Karena itu, ia mengingatkan agar mereka jangan membiarkan kondisi sukar mempengaruhi sikap Kristen, Paulus meminta agar Kristen di Filipi secara aktif menyatakan kebaikan hati mereka (ayat 5). Status 'dalam Tuhan' yang menjadi sumber Kristen memiliki sukacita dan damai sejahtera tidak boleh dihayati oleh orang Kristen secara pasif. Hanya bila secara aktif orang Kristen memupuk status tersebut dalam doa, maka relasi dengan Tuhan itu menjadi komunikasi yang hidup dan hangat. Dalam kondisi demikian kekuatiran tak beroleh tempat sebab damai dan sukacita Allah sendiri penuh dalam hati orang percaya (ayat 4-7).

Saudara/i terkasih!
Kita telah mengetahui dan mengerti rahasia sukacita yang sejati. Karena itu marilah kita mendasarkan sukacita kita pada Yesus Kristus agar sukacita kita boleh bertahan abadi dan marilah kita membebaskan diri dari perkara-perkara duniawi yang mungkin saja dapat mendatangkan sukacita secara cepat tetapi sekaligus tidak bertahan lama. Semoga demikian!


Daftar Pustaka
Abineno, Dr. L. Ch. Tafsiran Surat Filipi. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1967.
Barclay, William. Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Surat Filipi, Kolose, 1&2 Tesalonika. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.
Bergant, Dianne, CSA dan Robert J. Karris, OFM (ed.). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Terj. A. Hadiwiyata. Yogyakarta: Kanisius, 2002.
Brown, Raymond, Joseph Fitmeyer, and Roland E. Murphy (ed.). The New Jerome Biblical Commentary. The First Edition. Makati: St. Paul Publications, 1963.
Harrington, Wilfrid J., O.P. Record of The Fulfillment: The New Testament. Chicago: The Priory Press, 1965.
Lembaga Biblika Indonesia. Surat-Surat Paulus 3. Yogyakarta: Kanisius, 1989.
Wycliffe. Tafsiran dan Catatan Filipi. http://alkitab.sabda.org/commentary. Diunduh tanggal 11 April 2011.




[1] Dikelola dari berbagai sumber: Brendan Byrne, “The Letter to The Philippians dalam Raymond Brown, Joseph Fitmeyer, and Roland E. Murphy (ed.), The New Jerome Biblical Commentary, The First Edition (Makati: St. Paul Publications, 1963), p. 796-797; Lembaga Biblika Indonesia, Surat-Surat Paulus 3 (Yogyakarta: Kanisius, 1989), hlm. 38-40; Wycliffe, Tafsiran dan Catatan Filipi dalam http://alkitab.sabda.org/commentary., diunduh tanggal 11 April 2011; William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Surat Filipi, Kolose, 1&2 Tesalonika (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), hlm. 107-109; Dr. L. Ch. Abineno, Tafsiran Surat Filipi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1967), hlm. 99-115; Wilfrid J. Harrington, O.P., Record of The Fulfillment: The New Testament (Chicago: The Priory Press, 1965), p.279-280; Ivan Havener, OSB, “Filipi” dalam Dianne Bergant, CSA dan Robert J. Karris, OFM (ed.), Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, terj. A. Hadiwiyata (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 357-359.
[2] Ada kurang lebih dua pendapat besar seputar proses penulisan surat Filipi. Kelompok pertama yang antara lain diwakili oleh Ivan Havener, OSB menegaskan bahwa surat ini ditulis dalam tiga kesempatan berbeda. Alasannya antara lain karena terdapat pemenggalan yang mencolok di dalamnya (Bdk. Ivan Havener, OSB, “Filipi” dalam Dianne Bergant, CSA dan Robert J. Karris, OFM (ed.), Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, terj. A. Hadiwiyata (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 351-352). Kelompok kedua yang diwakili William Barclay mengemukakan bahwa surat ini hanya ditulis dalam sekali kesempatan atau tempat yang sama. Alasannya ialah bahwa surat Filipi merupakan surat pribadi dan surat pribadi tidak pernah disusun secara teratur seperti suatu uraian yang mendalam (Bdk. William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Surat Filipi, Kolose, 1&2 Tesalonika (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), hlm. 16-17). Tafsiran ini bukan terutama didasarkan pada permasalahan tersebut melainkan pada dua tema besar yang kami temukan dalam perikop yang kami dibahas.
[3] Lih. William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Surat Filipi, Kolose, 1&2 Tesalonika (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), hlm. 108.

Pertobatan Kornelius


INJIL UNTUK SEGALA BANGSA
Oleh: Nicolas Renleuw
(Tingkat IV, Jurusan Filsafat)

Saudara-saudari yang terkasih!
Kisah Para Rasul 10 dimulai dengan seorang yang bernama Kornelius dari Kaisarea. Kaisarea adalah sebuah kota di pesisir barat Palestina yang banyak didiami oleh orang non-Yahudi. Kaisarea adalah kota yang sudah lama ada. Kota ini kemudian diperbaharui dan diperluas oleh Herodes Agung menjadi kota pelabuhan dan garnisun (tempat kedudukan tentara). Herodes jugalah yang merubah nama kota ini menjadi Kaisarea untuk menghormati tuannya, yaitu Kaisar Agustus. Kota ini menjadi tempat kediaman gubernur-gubernur Romawi (Pilatus, Feliks, Festus). Bagi orang-orang Yahudi, nama Kaisarea dengan gaya bangunan kota, tempat kediaman gubernur Romawi, dan markas besar militer, melam­bang­kan dominasi politik dan kultural dari kuasa kafir.
Lalu siapakah Kornelius? Ayat 1-2 memberitahukan dua identitasnya. Pertama, ia adalah seorang perwira pasukan Italia. Jadi dia bukan seorang Yahudi, tetapi seorang Roma. Sehubungan dengan itu, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa penguasa-penguasa Romawi pada umumnya memobilisir serdadu-serdadu setempat untuk menjamin keamanan kota-kota yang didudukinya. Sekalipun demikian, mereka menambahkan juga ke antaranya korps-korps pilihan sendiri yang menjadi semacam pasukan khusus untuk mengetahui lebih dahulu atau pun mencegah bahaya-bahaya pengkhianatan. Demikianlah Kornelius yang berasal dari Italia adalah seorang kepala pasukan tentara. Dalam ketentaraan Romawi satu legiun itu terdiri dari 6000 orang yang dibagi dalam 10 pasukan.  Satu pasukan terdiri pula dari 6 bagian, jadi masing-masing dengan 100 orang. Maka sebagai kepala pasukan, Kornelius memimpin kira-kira 600 orang. Kedudukannya tersebut menjadikannya sebagai orang yang cukup terpandang di Kaisarea.
Kedua, dia adalah seorang yang takut akan Allah. ‘Takut akan Allah’ atau God fearer adalah sebuah istilah bagi orang non-Yahudi yang tertarik pada agama Yahudi, mereka bahkan menyembah Allah bangsa Yahudi dan menjalankan peraturan-peraturan agama Yahudi, hanya saja mereka tidak disunat. Karena itu, bagi orang Yahudi, mereka tetap dianggap sebagai kafir. Kornelius dapat dikatakan termasuk dalam golongan ini. Kehidupannya sebagai tentara agaknya tidak membuat ia menjadi kasar atau pun apatis terhadap agama. Selain tidak disunat, Kornelius tidak berbeda dengan orang Yahudi lainnya dalam hal kehidupan dan imannya. Dia melaksanakan perintah Tuhan dengan memberi sedekah pada orang-orang miskin, dan dia selalu berdoa kepada Allah yang disembah orang Yahudi. Dan hal ini bukan hanya dibiasakan dalam kehidupan pribadinya, tetapi dalam kehidupan keluarganya yang dicatat dalam Kitab Suci sebagai ‘seisi rumahnya’, artinya terhitung juga semua hamba-hambanya. Meskipun tidak digolongkan sebagai rakyat Yahudi oleh sunat, namun mereka hampir selalu, sebagai pembedaan, disebut “orang saleh”.

Saudara-saudari yang terkasih!
Tuhan lebih memperhatikan iman dan kehidupan Kornelius, daripada sekadar tanda-tanda lahiriah seperti  sunat. Suatu hari, kira-kira jam 3 petang ketika Kornelius sedang berdoa, malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya, dan mengatakan bahwa semua doa dan perbuatannya sudah sampai kepada Allah dan berkenan kepadaNya. Kornelius menjadi yakin akan kenyataan penglihatan ini oleh karena dengan jelasnya ia mendengar namanya dipanggil. Wajarlah bila Kornelius terkejut oleh penglihatan ini, tetapi kemudian hatinya menjadi tenang dan digembirakan. Sapaan ataupun jawaban malaikat Tuhan  kepada Kornelius tersebut menyiratkan pula bahwa Kornelius berusaha untuk beribadah dengan tulus kepada Allah.
Kemudian malaikat itu menyuruh Kornelius untuk mengirim orang menjemput Rasul Petrus, yang sedang berada sekitar Yope yang berjarak sekitar 50 jam dari Kaisarea. Menarik untuk disimak bahwa Kornelius tidak disuruh pergi kepada Filipus, yang pada waktu itu mungkin sekali berada di Kaisarea, tetapi ia disuruh pergi kepada Petrus. Rupanya Allah bukan hanya mempunyai sesuatu maksud dengan Kornelius saja, tetapi lebih-lebih dan terutama dengan Petrus. Kornelius harus mengirim orangnya kepada Petrus dalam kepercayaan, bahwa Allah mempunyai suatu berita baginya dengan perantaraan Petrus. Dan apa yang dibuat Kornelius sungguh memberikan kesan yang jelas kepada kita tentang imannya. Ia segera mengambil tindakan tanpa ragu-ragu. Apalagi di antara anggota-anggota keluarga dan prajurit-prajuritnya terdapat lagi orang-orang lain yang memiliki iman dan yang hidup bersama-sama dalam iman ini juga. Perjalanan ke Yope ini memakan waktu sekurang-kurangnya satu hari bagi pesuruh-pesuruh Kornelius ini.
Pertanyaan kita sekarang, maukah Petrus pergi ke rumah Kornelius? Jangankan ke rumahnya, berhubungan dengan bangsa lain sudah dilarang keras! Untuk itulah, Tuhan harus berbuat sesuatu untk membuang prasangka yang negatif itu, Tuhan harus ‘mencuci otak’nya dan mengubah pikirannya.

Saudara-saudara yang terkasih!
Apa yang Tuhan lakukan ? Mari kita lihat Kis 10:9-18. Pada pukul 12.00 siang, Petrus naik ke atas rumah untuk berdoa. Ini adalah kebiasaan orang Yahudi yang sehari berdoa tiga kali. Saat itu Petrus merasa lapar dan ingin makan. Mungkin dia mencium aroma makanan yang sedang disiapkan oleh sang tuan rumah. Petrus yang sedang lapar ini tiba-tiba diliputi kuasa ilahi, dan tampaklah olehnya langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah. Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung. Dalam penglihatannya, Petrus melihat berbagai jenis binatang di dalam kain itu, ada yang boleh dimakan dan ada yang tidak boleh. Penglihatan itu menjadi lebih sungguh-sungguh, oleh karena terdengar suara yang berkata kepada Petrus: sembelihlah dan makanlah. Sebagai orang Yahudi, Petrus tidak pernah memakan daging binatang yang haram dan tentu saja Petus tidak rela melepaskan begitu saja tradisi bangsa Yahudi yang sudah berabad-abad lamanya itu. Karena itu perintah tersebut terdengar hingga tiga kali.
Kata sembelih menunjuk pada menyembelih binatang-binatang dengan upacara. Hukum-hukum taurat yang bersifat upacara yang diberikan oleh Allah kepada Israel untuk menggambarkan kedatangan Mesias dan karya keselamatanNya, kini tidak diperlu lagi. Ia telah datang dan melaksanakan pekerjaanNya. Keselamatan kini harus diterima saja oleh iman kepercayaan. Karena itu tidak perlulah orang-orang kafir mengikuti bagian-bagian upacara dari Hukum Taurat untuk beribadah kepada Allah.
Dengan demikian, Allah menyodorkan dua pelajaran berharga kepada Petrus. Pertama, ia harus belajar bahwa sebagai orang Yahudi ia tidak usah lagi belajar tentang gambaran-gambaran yang samar-samar mengenai apa yang akan datang, sebab apa yang dilukiskan dalam hukum Taurat yang bersifat upacara sekarang telah menjadi kenyataan. Kedua, masa menyendiri bagi bangsa Israel sudah selesai, yang berarti bahwa pengertian halal dan haram  tidak berlaku lagi bagi perhubungan antar bangsa Yahudi dengan bangsa-bangsa lain. Bahwa hukum-hukum taurat yang bersifat upacara ini tentulah tidak perlu lagi dipaksakan kepada mereka , yang sekarang dari luar bangsa Israel memasuki persekutuan dengan Allah dengan perantaraan Yesus Kristus sebagai Pembebas bagi semua bangsa di bumi. Perubahan pandangan ini sangat berkesan bagi para rasul dan orang-orang Kristen pertama asal Yahudi sehingga beberapa kali diulang oleh Lukas. Penglihatan yang diterima Kornelius diceritakan tiga kali (KIs 10:3-6; 30-32; 11:13-14), penglihatan Petrus dua kali (Kis 10:10-16; 11:5-10) dan juga Kis 10:28 menunjuk kepada pengulangan cerita tersebut.
Sementara Petrus bertanya-tanya tentang maksud penglihatan itu, datanglah jawabannya. Tibalah orang yang diutus oleh Kornelius. Tentu saja Petrus akan berkeberatan untuk mengikuti begitu saja serdadu-serdadu Romawi ini dan orang-orang lain atas permintaan mereka. Tetapi Roh Kudus mengingatkan Petrus bahwa mereka adalah orang yang diutusNya, karena itu Petrus tidak perlu bimbang untuk menerima mereka dan pergi bersama mereka. Para pesuruh Kornelius kemudian memperkenalkan tuannya dengan cara yang tepat yakni sebagai orang yang adil dan takut akan Allah. Kedua kualitas ini pada umumnya diakui dan dihormati oleh orang Yahudi. Barulah mereka menceritakan bagaimana Kornelius mendapat penglihatan Allah dan menyuruh mengundang Petrus.

Saudara-saudara yang terkasih!
Lewat karya Tuhan, perlahan-lahan Petrus mulai mengerti maksud penglihatan itu dan bahwa kemudian ia juga mau menerima sepenuhnya perintah Roh Allah. Hai ini mulia terlihat ketika ia mengundang orang-orang Romawi suruhan Kornelius untuk makan bersama-sama dengan dia dan bermalam di tempatnya. Suatu hal yang sebenarnya sangat tabu bagi orang Yahudi. Bahkan kemudian tanpa ragu-ragu, keesokan harinya pergilah Petrus bersama mereka ke rumah Kornelius di Kaisarea. Petrus membawa serta beberapa saudara karena ia yakin bahwa akan terjadi pertemuan penting di Kaisarea. Demikian pula Kornelius mempersiapkan penyambutan yang layak bagi mereka. Baik Petrus maupun Kornelius, yang dipersiapkan Allah lewat penglihatan untuk karya-karya besarNya, membawa serta saudara-saudara yang semuanya pasti merupakan-saksi-saksi yang berharga dalam peristiwa penting ini.
Sesampainya di rumah Kornelius, dia menemukan sudah banyak orang menunggu, termasuk sanak saudara dan sahabat-sahabat Kornelius. Karena diliputi kegembiraan besar, Kornelius menunjukkan hormat sebesar-besarnya dengan menyembahnya. Tindakan Kornelius ini dapat dimengerti di tengah-tengah lingkungan kafir. Tetapi Petrus yang seorang Yahudi segera menolak penghormatan yang bersifat ilahi itu.
Ini adalah pertama kali dalam hidupnya Petrus menginjakkan kaki ke rumah orang non-Yahudi, hatinya pasti bergejolak. Sesuai dengan sifat dan wataknya, Petrus tidak lagi mengucapkan basa-basi formil. Karena itu dia berkata, “Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tahir.” Dari penuturan tersebut, kita mengetahui bagaimana Petrus sekarang mengerti dengan jelas arti dan maksud penglihatannya. Cara pandangnya telah berubah. Hal ini mempengaruhi pula pemilihan kata-katanya. Sikap congkak,yang diambil oleh kebanyakan orang Yahudi terhadap orang-orang kafir dan dengan kesombongan yang tidak pada tempatnya memandang rendah kepada mereka tidak lagi ada pada Petrus. Mungkin oleh karena itu juga dalam ayat 28 ia tidak berbicara tentang orang kafir sebagai orang buangan, tetapi ia mempergunakan ungkapan yang lebih lunak yaitu mereka yang datang dari bangsa lain. Suatu sikap yang bersifat Injili dan patut dipelajari guna menjadi contoh bagi pembawa-pembawa Injil sesudahnya.
Setelah Petrus mendengarkan Kornelius memberitahu dia apa yang terjadi empat hari sebelumnya, yaitu ketika dia sedang berdoa, Tuhan menampakkan diri dan menyuruhnya menjemput Petrus. Lewat semua ini, akhirnya Petrus sampai pada sebuah kesimpulan yang sangat penting, yang terdapat di ayat 34-35, “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya.” Petrus telah mengetahui dan ia mulia juga menyatakanya bahwa Allah adalah llah bagi semua bangsa. Israel tidaklah berada dalam kedudukan yang istimewa, oleh karena ia sendiri adalah lebih kudus ataupun lebih baik daripada bangsa-bangsa lain di hadapan Allah. Dasar kedudukan khusus Israel hanyalah terletak pada kenyataan bahwa Allah telah memanggil banggsa ini untuk memunculkan daripadanya Sang Mesias, sebagaimana telah dijanjikan Allah kepada Abraham (Kej 12:1-3). Tetapi kini Kristus telah datang dan telah melaksanakan pekerjaanNya, maka perbedaan antara Israel dan bangsa lain dalam hal ini telah ditiadakan.
Setelah itu, mulailah dia berbicara tentang Injil dan keselamatan dari Tuhan Yesus kepada mereka. Sementara Petrus berkhotbah, turunlah Roh Kudus di atas seluruh orang yang mendengarkannya, yang membuat orang yang pergi bersama Petrus menjadi tercengang. Mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa Roh dan memuliakan Allah. Rupanya Roh Kudus juga turun atas diri orang-orang yang selama ini mereka anggap kafir dan najis. Lalu Petrus berkata, “Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus samap seperti kita.” Setelah itu mereka dibaptis.
Cara pandang dan cara pikir Petrus telah berubah. Tetapi para rasul dan orang-orang percaya lain di Yerusalem masih belum. Setelah mendengar hal ini, mereka mempertanyakan mengapa Petrus bisa masuk ke rumah bangsa lain, bahkan makan bersama mereka. Untuk itu, Petrus harus menjelaskan dari awal semua yang telah terjadi, mulai dari penglihatan yang dia peroleh di lantai atas rumah Simon di Yope, kemudian kejadian yang dia dan orang yang bersama-samanya saksikan di rumah Kornelius. Setelah mendengarkan semua penjelasan Petrus, barulah mereka menjadi tenang, dan sambil memuliakan Allah mereka berkata, “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.”

Saudara-saudari yang terkasih!
Inilah cara Allah mengubah pola pikir dan cara pandang para rasul dan murid terhadap bangsa lain. Akhirnya Gereja mula-mula membuat sebuah kesimpulan yang sangat penting, bahwa Allah tidak membedakan orang, semuanya baik Yahudi atau non-Yahudi sama-sama berharga dan dikasihi Allah, semuanya pantas memperoleh keselamatan. Ini bukan kesimpulan yang dibuat manusia, tetapi ini adalah hasil dari pimpinan Allah yang sangat jelas dan tidak mungkin disangkal.
Adalah Allah yang menyatakan bahwa semua bangsa sama dikasihi dan berharga di hadapanNya. Karena itu maka Injil harus diberitakan kepada semua bangsa, tanpa ada pembatasnya. Allah mengasihi Kornelius dan keluarganya, sehingga Dia menyelamatkan keluarga ini. Pada saat yang sama Allah juga memakai Kornelius sebagai sebuah sarana untuk mengajar para rasul dan orang percaya, bahwa Dia tidak membedakan orang. Di hadapan Allah tidak ada yang najis, di hadapan Allah tidak ada yang tidak cocok atau tidak layak. Semua orang layak dan cocok untuk mendapat bagian dalam KerajaanNya, untuk mendapatkan keselamatan.
Pelajaran yang Allah berikan pada Petrus dan Gereja di Yerusalem, juga menjadi pelajaran bagi kita hari ini. Saat ini, apakah gereja masih memilah-milah, membeda-bedakan manusia? Apakah gereja masih baik secara sadar atau tidak, telah mengelompokkan bahwa ada yang lebih pantas atau cocok menjadi bagian dari gereja dan orang percaya ? Istilah yang paling tepat adalah, apakah gereja sudah bersifat ‘eksklusif, hanya suku tertentu, latar belakang sosial tertentu, atau jenis-jenis orang tertentu yang pantas dan cocok menjadi bagian dari gereja ini. Dan secara tidak langsung, kita telah melakukan penolakan terhadap kelompok-kelompok lainnya. Pada sisi lain, mungkin dalam pikiran kita sudah tertanam sebuah prasangka buruk bahwa adalah kelompok tertentu di masyarakat ini tidak cocok dan tidak pantas dalam Kerajaan Allah. Apakah kita yakin bahwa Yesus sudah mati untuk mereka, atau kita berpikir jiwa mereka kurang cocok dan kurang pantas menjadi anak Tuhan? Atau tidak perlu berpikir terlalu jauh, mungkin kita juga memiliki prasangka terhadap orang-orang tertentu di sekitar kita, mungkin karena karakternya, pekerjaannya, atau kehidupannya, yang kita anggap tidak pantas atau tidak layak menjadi anak Tuhan, mereka tidak mungkin bisa diselamatkan oleh Tuhan. Kita harus sadar bahwa tidak ada orang yang najis atau yang tidak cocok atau tidak pantas di hadapan Allah. Bahwa Allah tidak membedakan manusia, tetapi berkenan pada semua orang yang sungguh-sungguh mencariNya dan menjalankan perintahNya.
Biarlah kita diingatkan bahwa tidak ada seorangpun yang najis dan tidak cocok di hadapan Allah, karena Allah tidak membedakan orang, tetapi Dia mengasihi dan mau menyelamatkan semua orang.  S E K I A N



Daftar Bacaan
a.      Buku
Guthrie, D. (ed.). Tafsiran Alkitab Masa Kini 3: Matius-Wahyu. Terj. Dr. Harun Hadiwijono, dkk. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1980
Brink, Ds., H. Tafsiran Alkitab Kisah Para Rasul. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.
Brown, Raymond E., Joseph A. Fitzmyer, SJ, dan Rolland E. Murphy, O.Carm. (ed.). The Jerome Biblical Commentary. London: Geoffrey Chapman, 1969.
Bergant, Dianne, CSA dan Robert J. Karris, OFM (ed.). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Ter. A. S. Hadiwiyata. Yogyakarta: Kanisius, 2002.

b.      Internet
http://www.sabdaspace.org/
http://www.sinarharapan.co.id/
http://psbrahmana.blogspot.com/
http://gpdimaranatha.org/
http://www.gkketapang.org/