Ngomongin tentang mantan itu emang nggak pernah ada ujungnya. Tapi tentu saja hal ini cuma berlaku bagi mereka yang punya mantan. Kalo yang blum punya, belajar deh dari yang udah punya, supaya ntar kalo udah punya mantan nggak canggung lagi. Apasih..
Entah berawal dari mana, tiba-tiba ajha gue kali ini kepingin bercerita tentang mantan. Mungkin baru nyadar kali kalo mantan itu sesuatu. Dan seperti cerita gue pada umunya, gue nggak ngomongin tentang mantan tertentu, tapi kelakuan mantan pada umumnya dan dampaknya pada kehidupan kita. Dan terutama bagaimana kita harus menyikapi dampak tersebut. *mulai sok serius*
Tapi ngomong-ngomong, udah pada tahu kan definisi mantan? Mantan adalah sesuatu yang pernah terjadi dan kini tinggal masa lalu. Kira-kira gitu deh. Pokoknya ngomongin tentang mantan berarti ngomongin tentang masa lalu, tentang sejarah gitu. Makanya ngomongin mantan itu penting lo demi perbaikan hidup di masa kini dan masa yang akan datang. Cie.. Tapi beneran lho. Misalnya, ketika kita terluka karena dikhianati pacar yang udah jadi mantan. Yang namanya luka ya perlu disembuhkan dulu. Jangan harap hidupmu akan jadi lebih baik selama kau belum mampu menyembuhkan luka itu. Luka fisik mah gampang atuh obatnya, tapi gimana dengan luka batin? Gue kasih tahu ya, kalo mau sembuh loe mesti terima dulu kenyataan bahwa loe dikhianati atau dilukai. Dan kita hanya bisa menerima kenyataan itu kalo kita menikmati rasa sakit yang datang menyerang. Iya, menikmati, bukan dihindari. Kalo harus nangis ya nangis. Nggak apa-apa koq. Dalam kasus ini nangis itu sehat. Kalo udah gitu, loe pasti lebih bisa objektif menilai permasalahan yang kamu alami ini. Ngaak usah dendam, karena dendam itu penyakit dan itu tak baik untuk kesehatan kepribadian. Justru kamu harus mengampuni. Iya, mengampuni. Mengampuni tak berarti menerima dia kembali atau ajak si dia reunian gitu. Plis deh!! Mengampuni terutama berarti kamu ikhlas dan berterima kasih pada Tuhan karena pernah diberikan pengalaman kayak gitu. Toch, pasti selain pengalaman disakiti banyak juga kenangan indah yang kalian pernah alami bersama. Menghidupkan kenangan yang positif bisa juga membantu dalam memampukanmu untuk mengampuni sang mantan tersebut. Dan yang pasti semua pengalaman bersama mantan tersebut, entah suka maupun duka, semakin membuatmu menjadi pribadi yang kuat, tegar cetar membahana badai. Ciyusss...
Lagian, seringkali kita sulit move-on-in sang mantan karena kita kurang objektif dalam menilai. Seakan-akan dia adalah satu-satunya cahanya dalam hidup. Ceilee. Helou, buka mata, dan buka hatimu bahwa masih banyak cahaya lain yang ada di sekitarmu. Cahaya itu akan tersingkap semakin banyak ketika kamu udah mulai sembuh dari luka yang ditinggalkan mantanmu. Itu proses yang sehat. Jadi jangan maksain buat temukan cahaya lain terlalu cepat. Bisa-bisa malah hanya pelarian jadinya. Sembuhkan dirimu terlebih dahulu maka cahaya itu akan tersingkap perlahan-lahan bagimu. Nggak usah nanya: "cahaya apakah yang dimaksud?". Itu ya calon mantan, eh. Calon teman dekat maksudnya.
Yang pasti ya, semua proses itu butuh waktu. Ada yang lama, ada yang cepat, tergantung dalamnya luka. Makanya nikmati prosesnya sambil tetap mengontrol progressnya. Jadi nggak penting mantanku atau mantanmu, tapi gimana kita bisa sembuh dari benda bernama mantan tersebut. Udah dulu blablanya.. Gue udah ngantuk sangat. Ntar kalo ada kekurangan gue edit lagi deh. Tema mantan itu luas sangat dan mudah-mudahan nanti gue masih bisa ngomong ngalor-ngidul tentang mantan dari perspektif lain lagi. Good luck buat yang lagi on the way move-on. Insya Allah ada jalan.
Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan
Minggu, 05 Mei 2013
Rabu, 06 Maret 2013
Ketika Dia Menyerah (Ironi Sebuah Kisah Cinta Beda Agama)
KETIKA DIA MENYERAH
adalah
Ketika dia tak sanggup lagi menghadapi banyaknya tekanan dari pihak keluarga
adalah
Ketika masalah yang sederhana menjadi masalah yang luar biasa
adalah
Ketika kehadiran orang ketiga yang seiman dianggap sebagai "malaikat penyelamat"
adalah
Ketika dia perlahan-lahan menumbuhkan rasa cinta pada "malaikat penyelamat"-nya
adalah
Ketika dia mulai mengabaikan segala harapan, doa, janji dan komitmen yang pernah kalian bangun bersama
adalah
Ketika dia perlahan-lahan membunuh rasa cintanya bagimu
adalah
Ketika kamu punya kehendak kuat untuk berjuang tetapi ia tak mau bekerja sama lagi
adalah
Ketika kamupun dipaksa membunuh rasa cintamu kepadanya
adalah
Ketika dunia terasa tak adil
adalah
Ketika banyaknya air mata yang harus kau keluarkan
adalah
Ketika kamu mulai mempersalahkan banyak hal
adalah
Ketika kamu merasa segala komitmen dan kesetiaan yang kamu bangun untuknya tiada artinya
adalah
Ketika kamu mulai terpuruk
adalah
Ketika kamu ingin lari dan melupakan tapi tak bisa
adalah
Ketika kamu menyadari bahwa kamu harus menghadapinya
adalah
Ketika kamu menyadari betapa berartinya para sahabat yang menyertaimu
adalah
Ketika kamu kembali berpasrah pada kehendak Tuhan
adalah
Ketika Tuhan menunjukkan jalan-Nya
adalah
Ketika segala sesuatu indah pada waktunya
adalah
Ketika kamu merasakan indahnya bangkit dari keterpurukan
adalah
Ketika kamu mampu mengampuninya
adalah
Ketika kamu menjadi pribadi yang lebih matang
adalah
Ketika kamu semakin mengerti arti cinta yang sesungguhnya
adalah
Ketika kamu mulai ikhlas mendoakan kebahagiaannya
adalah
Ketika hidup terus berlanjut
adalah
Ketika semua proses ini berjalan dengan perlahan tapi pasti
adalah
Ketika semua proses ini berjalan dengan berat tapi harus
adalah
Ketika kamu pun tak boleh 'menyerah'
adalah
Ketika Dominus Tecum
Ketika hidup terus berlanjut
adalah
Ketika semua proses ini berjalan dengan perlahan tapi pasti
adalah
Ketika semua proses ini berjalan dengan berat tapi harus
adalah
Ketika kamu pun tak boleh 'menyerah'
adalah
Ketika Dominus Tecum
Be Strong Nick, Insya Jesus ada jalan.
Selasa, 19 Februari 2013
Keluarga di Firdaus
Hai!!!
Keluarga adalah sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan. Pasti cepat sekali diiyakan, Tetapi apakah kita selalu menyadari dan mensyukurinya? Apakah kita secara teratur memperhatikan atau minimal mendoakan keluarga kita? Belum tentu kan. Mudah-mudahan cerita gue ini menyadarkanmu untuk segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar (agak lebay, -red). Minimal janganlah tunggu sampai kau tak punya keluarga barulah mulai menyadari betapa berharganya mereka. Kalo itu sampai terjadi...ter...laaa...luu.
Keluarga tidaklah selalu berarti mereka yang punya hubungan darah dengan kita. Mereka yang kita cintai dan TERUTAMA yang mencintai kita sebenarnya adalah keluarga kita yang sesungguhnya. Dalam pengertian itu, alangkah bahagianya kita kalo punya banyak keluarga. Makanya rajin-rajinlah berbuat baik terhadap sesama, niscaya kau akan memiliki banyak keluarga di dunia ini.
Sebagai seorang perantau, gue merasa cukup beruntung karena punya keluarga yang mencintai dan memperhatikanku di tanah rantau Manado ini. Mereka adalah keluarga Lolong di Kelurahan Wailan, Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Pada liburan tahun baru kemarin gue sempat berekreasi bersama keluarga ini di Firdaus Beach, Sulawesi Utara. Cekidot!
Sewaktu ru sampai n bersiap-siap mengisi perut
Kalo yang ini si Cheva unyu! Termasuk salah satu anak kecil terbijaksana
yg pernah gw temui. Bayangkan dia pernah membangunkan gue dari tidur
hanya untuk memberitahukan bahwa Gunung Lokon sementara meletus!
Nggak bijaksana amat ya? Minimal dia lucu lah!
Cherry, Evan dan Digta sedang merayakan indahnya masa remaja. Ciee..
Banana Boat. Gue cuman meramaikan makanya tersisih di belakang!!
Panorama perairan Firdaus Beach
Gw lagi mencari ekspresi yang tepat..
Om Frans yang mencoba ikhlas saat di take..
Begitulah keluarga membuat hidup kita lebih berwarna. Gw bersyukur punya keluarga yang bisa menerima keberadaan gue dan serentak menyadari betapa melimpahnya berkat Tuhan dalam hidup ini. Ada saja orang-orang yang diutus-Nya untuk membuat kita bahagia. How about you?
Sabtu, 02 Februari 2013
Apakah Memang Dia Jodohku?
Ini ceritaku. Hanya salah satu cerita kecil dari dinamisnya hubungan cinta beda agama (CBA) yang saya jalani. Sebenarnya bukan sebuah cerita sih. Mungkin lebih tepat kalo disebut sebagai sebuah refleksi. Hmm, mungkin bagi mereka yang punya atau pernah punya hubungan cinta beda agama juga memiliki pengalaman yang sama denganku. Ya, bahwa menjalani hubungan CBA itu punya dinamika tersendiri. Mulai dari tantangan yang datang dari pihak keluarga, teman-teman, bahkan dari otoritas agama yang kita anut. Well, tentang ini saya sudah sedikit membahasnya dalam cerita sebelumnya: Hubungan Terlarang? Emang Loe Tuhan?
Refleksi saya kali ini berangkat dari sebuah pertanyaan kecil dalam sebuah diskusi di grup Cinta Beda Agama Facebook. Ada seorang anggota grup yang mengajukan pertanyaan: Bagaimana kita meyakinkan diri sendiri dan orang lain bahwa dia adalah jodohku? Bagi saya pertanyaan ini merupakan penuntun ke dalam sebuah refleksi yang mendalam. Saya merumuskan kembali pertanyaan itu kepada diri sendiri: Apakah memang dia jodohku? Dan setelah merenungkan kisahku inilah yang kupegang sebagai prinsip.
1) Meyakinkan Diri Sendiri.
Hal terpenting yang saya buat adalah meyakinkan diri sendiri kalau pasangan itu memang soulmate yg sesungguhnya. Keyakinan bahwa "ini lho jodohku dari Tuhan!" itu tidak instan dan butuh proses pemurnian panjang. Maksudnya ialah tentu saja keyakinan itu berasal dari pengalaman selama menjalin hubungan. Dan yang terpenting adalah soal pemurnian motivasi dalam mencintai. Kalau sudah gitu, tak ada alasan untuk tidak mempertahankan anugerah cinta yg diberikan-Nya.
2) Berhadapan dengan Orang Lain
Sesudah meyakinkanitu berhadapann dengan keluarga yg melarang. Bagi saya, orang tua bisa juga keliru. Mungkin mereka ingin menunjukkan cara terbaik mencintai kita dgn 'melarang' kita utk terlibat CBA. Tapi bukan berarti "cara terbaik" mereka itu adalah cara yang sempurna. So, bukannya durhaka, tapi ada saatnya kita menentukan sendiri keputusan hidup kita. Membahagiakan orang tua, tidak selalu berarti mengikuti kehendak mereka. Yang penting, ntar kalau dah menyatu sama pasangan, tetap berbakti pada orang tua. Tunjukkan cara terbaik kita dalam mencintai mereka. Sekali lagi, meskipun cara terbaik itu, bukan cara yang paling sempurna.
Itulah dua prinsip sederhana yang kupegang. Ya, "hanya" itu. Dan setelah ditimbang-timbang, kelihatannya meeka yang menjalin hubungan cinta seagama pun tetap tidak bisa lepas dari prinsip ini. Memang kelihatan sederhana. Sederhana kalau memang diyakini dan dijadikan sebagai pegangan dalam menjalin hubungan. Saya selalu berdoa agar tetap konsisten dalam prinsip ini. Dan saya yakin Tuhan memberkati.
Jodoh itu di tangan Tuhan, tapi ingatlah bahwa takdir Tuhan ada di ujung usaha manusia.
Jangan pernah menyerah untuk perjuangkan cintamu.
Dimana ada cinta yang murni, di situ pasti ada jalan keluar yang dapat menembus berbagai tembok-tembok perbedaan.
Dimana ada cinta yang murni, di situ pasti ada jalan keluar yang dapat menembus berbagai tembok-tembok perbedaan.
Senin, 28 Januari 2013
Antara Pengakuan dan Pemberian Diri.
Akhirnya ada kesempatan untuk berbagi cerita lagi. Seperti
biasa, ceritaku itu perpaduan antara pengalaman atau pergumulan hidup yang
dialami ditambah sedikit refleksi pribadi. Strukturnya mungkin ngalor ngidul tapi komposisinya
kira-kira seperti itulah. Sekian dan terima kasih. Wakakaka
Sama seperti kebanyakan orang, gw termasuk salah seorang
yang melibatkan diri di dalam dunia maya. Bahkan akhir-akhir ini bisa dikatakan
sedang ketagihan. Nah, gw punya beberapa akun di situs social network. Awalnya
sih, motivasinya cuma biar nggak dikatakan gaptek. Kemudian motivasinya
berkembang sebagai ajang mencari teman dan bersosialisasi dengan penduduk dunia
yang lain. Sampai tataran ini, motivasi ini kayaknya berada pada jalur yang
benar. Artinya, mungkin inilah cita-cita luhur para pendiri situs-situs
tersebut. Yakni agar berbagai makhluk di dunia ini bisa saling berinteraksi
walau dipisahkan ruang dan waktu. Ceilee
Dalam perkembangannya, terjadi pergeseran dalam hal pola
relasi. Kalo sebelumnya setiap penghuni umumnya ditempatkan dalam level yang
sama, kini berbagai social network tersebut mulai mengkategorikan anggotanya
dalam dua kasta, follower dan following. Gw nggak tahu sejarah cikal-bakalnya.
Tapi pasti kita semua sepakat kalo twitter-lah yang mempopulerkan pembagian
kasta ini. Kelihatannya nggak ada yang salah sih. Mereka yang punya kharisma
dan kepribadian plus hampir pasti memiliki follower yang banyak. Dan begitu
pulalah sebaliknya. Tapi bukankah manusia diciptakan sederajat? Kelihatanlah
bahwa pada akhirnya para penghuni dumay mulai berjuang menegakkan harga dirinya
baik dengan cara yang halal maupun tidak halal seperti dengan mencuri jempol
atau follower misalnya.
Sebelum topiknya jadi melebar, kita kembali fokus. Mungkin
banyak hal yang bisa direfleksikan dari ilustrasi yg gw utarakan di atas. Tapi
kali ini, gw melihat satu kata kunci dari ilustrasi terbut yakni Pengakuan.
Yups, bahwa setiap pribadi ingin mendapat pengakuan untuk sesuatu hal yang ia
kemukakan. Sah-sah saja. But, mungkin kita perlu mengkritisi lagi pola relasi
ini. Artinya bahwa pengakuan seharusnya adalah konsekuensi dari makna atau
manfaat yang kita berikan bagi orang lain. Tetapi pola relasi ini menjadi tidak
sehat ketika orang menekankan pada
pengakuan dan bukan pada pemberian diri. Maksudnya ialah orang berfokus
pada bagaimana mendapatkan pengakuan sebanyak-banyaknya, dan bukan terutama
pada bagaimana agar saya bisa berbagi kepada orang lain sebanyak-banyaknya.
Yang lebih parah lagi, banyak orang yang mendapat manfaat dari orang lain tidak
mau jujur memberikan pengakuan kepada orang yang telah membantunya. Contoh
konkret, kalo anda merasa cerita ngalor-ngidulku ini bermanfaat, ungkapkanlah
pengakuanmu dengan semacam kata terima kasih di bagian komentarnya misalnya. Sekali
lagi misalnya. Atau minimal doakanlah mereka yang telah mengisnpirasimu. Bukan
malahan mencopas secara tidak bertanggung jawab dengan mempublikasikannya
sebagai ciptaan pribadi.
Gw bukan ahli Bahasa Indonesia. Tetapi setelah gw
telusuri, kata pengakuan itu berasal dari kata dasar ‘Aku’. Dan ‘Aku’ kalau
tidak dimanfaatkan secara bijaksana, bisa menjurus kepada ‘egois’. Gw akhirnya
sadar, bahwa pengakuan bukanlah prioritas yang sesungguhnya. Prioritas yang
sesungguhnya itu ialah pemberian diri yang terungkap dalam status, tweet,
blogging. Ungkapkanlah dirimu secaramu jujur dan berikanlah sesuatu yang
bermanfaat bagi orang lain. Kalau demikian adanya, pasti akan ada pengakuan
untukmu. Mungkin saja bukan dalam bentuk follower membengkak, tetapi minimal
kemampuan pribadi untuk berbuat sesuatu yang positif semakin berkembang. Dan
yang pasti Tuhan tidak menutup mata untuk setiap pemberian dirimu. Kata orang
bijak nih, tak ada hal apapun di bumi ini yang tidak berguna kalo kita mau belajat
dari padanya. Percayalah bahwa apapun yang diungkapkan dengan jujur itu tidak
pernah sia-sia. So, jangan takut untuk mengungkapkan kebaikan dirimu secara
jujur hanya karena tidak ada like, retweet, atau komentar.
Udah itu ajha. Ngalor-ngidul kan? Hmm, tapi mudah-mudahan
cerita ini bermanfaat untukmu walau dalam bentuk yang berbeda dari manfaat yang
gw peroleh.
Selasa, 15 Januari 2013
Hubungan Terlarang? Emang Loe Tuhan?
Halo Guys! Berhubung gw adalah salah satu pemeluk Cinta Beda Agama, kali ini gw pingin share 'dikit' tentang pengalaman gw dalam menjalani hubungan ini. Baru dua tahun sih. Tapi gw rasa pengalaman dalam kurun waktu dua tahun itu lumayan sudah terbentuklah menjadi 'sesuatu' untuk gw share. Tapi nggak janji ya kalo nanti sharenya benar-benar 'dikit' hehe.. Selamat menyimak!!
Menurut gw, cinta dan perbedaan adalah dua realitas ciptaan Tuhan yang tak bisa dilepas. Kalau mau direfleksikan secara objektif nich, realitas cinta itu ada, justru karena ada realitas yang namanya perbedaan. Artinya, cinta itu ada untuk melengkapi perbedaan. Contoh paling sederhana nie: laki-laki dan perempuan ajha beda jenis kelamin. Coba kalo sama, gmana jadinya? Bahkan tiap manusia itu berbeda. Dan berkat cinta perbedaan ini bisa berjalan dengan indah. Yang pasti kedua realitas ini, cinta dan perbedaan, adalah ciptaan Tuhan. Hanya..., sumpah, gw nggak tahu yang mana yang diciptakan duluan! Mungkin saja bahkan diciptakan bersamaan. Only God knows.. (in English).. heheee..
Menurut gw, cinta dan perbedaan adalah dua realitas ciptaan Tuhan yang tak bisa dilepas. Kalau mau direfleksikan secara objektif nich, realitas cinta itu ada, justru karena ada realitas yang namanya perbedaan. Artinya, cinta itu ada untuk melengkapi perbedaan. Contoh paling sederhana nie: laki-laki dan perempuan ajha beda jenis kelamin. Coba kalo sama, gmana jadinya? Bahkan tiap manusia itu berbeda. Dan berkat cinta perbedaan ini bisa berjalan dengan indah. Yang pasti kedua realitas ini, cinta dan perbedaan, adalah ciptaan Tuhan. Hanya..., sumpah, gw nggak tahu yang mana yang diciptakan duluan! Mungkin saja bahkan diciptakan bersamaan. Only God knows.. (in English).. heheee..
Sayangnya, dalam realita kehidupan kita, banyak orang (kalo tidak mau dikatakan mayoritas) terlalu membatas-batasi dua realitas ini. Parahnya mereka membawa-bawa nama Tuhan, seakan-akan Dialah yang membatasinya. Itu dosa loch..!! Lebih rumit lagi keluarga kita sering termasuk dalam kalangan ini..
Walaupun demikian, yang pasti ialah bahwa Tuhan tidak pernah membatasi manusia untuk mencintai dengan alasan perbedaan. So, Cinta Beda Agama itu sama sekali tidak melawan kehendak Tuhan, Sang Pencipta Cinta dan Perbedaan. Jadi, perjuangkanlah cintamu, bahagiakan keluargamu, itulah bentuk penghargaan dan penghormatan paling konkret terhadap Sang Pencipta..
Mungkin itu ajha dulu kale ya. Sebagai catatan teknis, tulisan ini gw buat pas Film #CintaTapiBeda lagi booming. Tapi sumpah (lagi! hee) tulisan gw ini original berdasarkan pengalaman pribadi. Gw ajha lom nonton tu film.. Wakakaka..
Oh iya, hubungan gw sampe sekarang aman-aman ajha. Karena itu pasti masih ada stories gw selanjutnya tentang Cinta Beda Agama yang bakalan nyusul.. Akhir kata, selamat berbagi cinta!! Upppsss...
Sumber Gambar:
Grup Cinta Beda Agama Facebook http://www.facebook.com/groups/CBDA1/
Karena 'Separuh Aku' Milan
Kalo berbicara tentang klub sepakbola favorit, gw itu Milanisti Militan. Mungkin karena sejak pertama kali mengenal sepak bola, gw udah jatuh cinta sama AC. Milan. Sekarang udah sekitar 15 tahun. AC Milan dah menjadi 'separuh aku'.
Makanya, kalo sempat, apapun yang berkaitan dengan Milan itu pasti gw simak dengan sangat emosional. Eits, emosional di sini berarti segenap perasaan gw terlibat di dalamnya, bukan anarki lho. Terus, gw pake istilah 'kalo sempat' bukan karena mencintai Milan hanya setengah-setengah. Melainkan karena ada banyak aktivitas hidup lain pula yang mesti gw jalani demi hidup.
Sayangnya, sampe sekarang gw belum jadi member resmi Milanisti Indonesia. Soalnya belum lama berkontak dengan mereka n pas pendaftarannya dibuka gw lagi sibuk jd nggak sempat mendaftar. Mudah-mudahan ada kesempatan di pendaftaran berikutnya #MyWish. Tapi hal ini sedikitpun tidak mengurangi kecintaanku buat AC. Milan. Pokoknya #ForzaMilan lah..
Me and Begadang
Begadang lagi. Terlalu ingin meneguk banyak kenikmatan di dunia maya membuatku mengabaikan desakan kebutuhan tubuh untuk beristirahat. Masalahnya ini dah jadi kebiasaan. Tadi sempat terpikir untuk ingin merubah pola hidup. Nggak tahu itu udah niat perubahan yang keberapa ratus tuh. Tapi kenapa pelaksanaannya selalu susah. Huuft. Sudah hampir 2 tahun hidup kayak gini. Harus berubah. Hidup masih panjang Nick. Engkau masih muda. Sayang kalau masa mudamu hanya dihabiskan didepan layar pada malam hari hingga tak produktif di siang hari. hal pertama yang harus kubuat adalah menjadikan 'anti-begadang' sebagai kebiasaan baru. Chayyo.. Tuhan, bantu aku!!
Gw mau klarifikasi dikit tuh storee gw barusan. Sebenarnya tadi malam gw nggak niat begadang. Bukan karena niat ingin berubah sih, cuma karena memang udah nggak sanggup lagi untuk begadang alias ngantuk. He3.. Hanya saja karena begadang dah jadi kebiasaan, makanya mas ada keributan dikit di atas jam 12 pasti langsung terbangun dan akhirnya sukses begadang lagi mpe sekarang. Jadi mulai sekarang gw ingin menerapkan semangat 'anti-begadang'. Mudah2an jadi.. Tuhan tolong. AMin.
Gw mau klarifikasi dikit tuh storee gw barusan. Sebenarnya tadi malam gw nggak niat begadang. Bukan karena niat ingin berubah sih, cuma karena memang udah nggak sanggup lagi untuk begadang alias ngantuk. He3.. Hanya saja karena begadang dah jadi kebiasaan, makanya mas ada keributan dikit di atas jam 12 pasti langsung terbangun dan akhirnya sukses begadang lagi mpe sekarang. Jadi mulai sekarang gw ingin menerapkan semangat 'anti-begadang'. Mudah2an jadi.. Tuhan tolong. AMin.
Sabtu, 11 Februari 2012
…Matoaku Sayang, Matoaku Malang…
by Nick Renleuw
Waktu pertama kali diperkenalkan dengan buah Matoa di Pranovisiat MSC Pineleng tahun 2005, beta punya lidah tidak terlalu setuju untuk menerima rasanya. Aneh, begitu pesan yang dikirimkan salah satu anggota panca indra ini ke otakku. Yang lebih aneh lagi, beberapa tahun kemudian ketika menetap di komunitas Skolastikat MSC Pineleng, beta jadi begitu suka pada buah yang satu ini. Tidak salah kalau Rene Descartes bilang panca indra itu bisa menipu.
Kalau lagi musimnya, pohon Matoa besar yang terletak di belakang komunitas menjadi tempat yang ramai. Biasanya satu dua orang frater naik ke atas pohon dan sebagian besar menunggu di bawah. Selalu terjadi diskusi antara pemanjat dan rekan-rekan di bawah tentang cara terbaik menggaet buah-buah Matoa untuk mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin. Tak jarang para penunggu di bawah membantu pula dengan beberapa trik klasik seperti melempar dengan batu atau kayu. Trik yang cukup efektif ialah ketika para pemanjat mengikatkan tali di salah satu cabang yang tak bisa dijangkau dan rekan-rekan di bawah ramai-ramai menarik atau menggoyang-goyangkan tali tersebut. Hasilnya ialah hujan Matoa. Para penikmat di bawah kemudian memanen hasilnya dan dibagi bersama. Tak perlu khawatirkan para pemanjat karena mereka juga pasti sedang menikmati hasil yang sama di atas.
Hal yang yang jauh lebih penting dari sekadar deskripsi di atas ialah kebersamaan di seputaran pohon Matoa tersebut. Persaudaraan, atau yang lebih keren disebut konfraternitas, secara konkret dibangun dalam moment-moment seperti ini. Persaudaraan dan kebersamaan di seputaran pohon Matoa ini sangat sering terjadi, bahkan di luar musim Matoa. Seputaran pohon Matoa menjadi tempat berkumpul untuk berbagai aktifitas nonformal seperti bercerita MOP alias humor, bermain takrauw dan gawang mini, fitness, ataupun saling bersharing secara serius pada moment ulang tahun. Hmm, memang terlalu indah untuk dilupakan.
KRONOLOGI GERAKAN MATOA
“Kalian bertiga diminta untuk mengundurkan diri”. Inilah kalimat yang diucapkan Pater Superior kepada beta dengan kedua orang teman, sebagai sari pati keputusan staf menanggapi sweeping penggunaan HP di dalam komunitas. Menurut beta,ada ketidakadilan di sana mengingat ada 90% anggota komunitas yang menggunakan HP secara illegal. Beta masih ingat kalimat-kalimat lain yang diucapkan Pater Superior yang sama di refter, di hadapan seluruh anggota komunitas , ketika menyambut beta dengan kedua orang teman ketika kembali dari ‘masa hukuman’, “Selamat bergabung kembali kepada ketiga teman kita, dan pengalaman mereka menjadi juga pengalaman kita. Apabila kedapatan lagi siapa pun yang menggunakan HP tanpa izin, akan langsung dikeluarkan.”
Walaupun tahu bahwa keputusan ini tidak akan berubah sedikitpun, beta menyempatkan diri untuk ‘membela diri’ atau sekurang-kurangnya mengungkapkan isi hati. Dialog yang kemudian terjadi antara beta dengan Pater Superior kira-kira seperti ini.
Hal yang yang jauh lebih penting dari sekadar deskripsi di atas ialah kebersamaan di seputaran pohon Matoa tersebut. Persaudaraan, atau yang lebih keren disebut konfraternitas, secara konkret dibangun dalam moment-moment seperti ini. Persaudaraan dan kebersamaan di seputaran pohon Matoa ini sangat sering terjadi, bahkan di luar musim Matoa. Seputaran pohon Matoa menjadi tempat berkumpul untuk berbagai aktifitas nonformal seperti bercerita MOP alias humor, bermain takrauw dan gawang mini, fitness, ataupun saling bersharing secara serius pada moment ulang tahun. Hmm, memang terlalu indah untuk dilupakan.
KRONOLOGI GERAKAN MATOA
“Kalian bertiga diminta untuk mengundurkan diri”. Inilah kalimat yang diucapkan Pater Superior kepada beta dengan kedua orang teman, sebagai sari pati keputusan staf menanggapi sweeping penggunaan HP di dalam komunitas. Menurut beta,ada ketidakadilan di sana mengingat ada 90% anggota komunitas yang menggunakan HP secara illegal. Beta masih ingat kalimat-kalimat lain yang diucapkan Pater Superior yang sama di refter, di hadapan seluruh anggota komunitas , ketika menyambut beta dengan kedua orang teman ketika kembali dari ‘masa hukuman’, “Selamat bergabung kembali kepada ketiga teman kita, dan pengalaman mereka menjadi juga pengalaman kita. Apabila kedapatan lagi siapa pun yang menggunakan HP tanpa izin, akan langsung dikeluarkan.”
Walaupun tahu bahwa keputusan ini tidak akan berubah sedikitpun, beta menyempatkan diri untuk ‘membela diri’ atau sekurang-kurangnya mengungkapkan isi hati. Dialog yang kemudian terjadi antara beta dengan Pater Superior kira-kira seperti ini.
Beta : “Pater, beta merasa keputusan ini kurang adil!”
Pater Superior (PS): “Kamong (kalian) kan su pernah melakukan yang sama jadi keputusan ini cukup pantas!”
Beta: “Beta merasa sudah dua kali dijatuhkan keputusan tidak adil. Yang pertama, hanya torang tiga orang yang diberi hukuman meski waktu itu sudah jadi rahasia umum bahwa mayoritas anggota komunitas pakai HP secara illegal. “
PS : “Faktanya cuma kamong tiga yang ketahuan (secara formal)!”
Beta: “Karena ketahuan jadi torang lebih buruk di mata staff dibandingkan teman-teman yang tidak ketahuan!”
PS: @#$%^&*
Keluar dari kamar Pater Superior, beta dengan salah seorang teman mulai berdiskusi tentang rencana kehidupan selanjutnya. Seperti biasa seputaran pohon Matoa menjadi tempat sharing kami. Ternyata sudah banyak frater yang berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil di sana. Dari diskusi-diskusi terbatas tersebut mereka tergerak ‘berbuat sesuatu’ untuk ‘menyelamatkan’ kami. Teman-teman lain yang belum hadir diundang untuk terlibat. Terjadi diskusi antara hampir semua orang di situ dari jam 12 malam sampai jam 4 dinihari. Terjadi kesepakatan bersama untuk secara sadar (katanya) menolak keputusan staff. Beta dilema. Di satu sisi, beta senang karena ada kepedulian dari teman-teman. Beta melihat gerakan Matoa ini bukan sebagai gerakan solidaritas kosong semata. Beta kira gerakan ini berangkat dari sebuah kesadaran bahwa kita melakukan pelanggaran yang sama entah sebagai pemilik maupun pengguna jasa HP. Ada unsur tanggung jawab di sana. Tetapi juga bahwa HP sudah menjadi kebutuhan dalam mengembangkan diri, dan bukan lagi suatu barang mewah. Tetapi di sisi lain, sejak awal beta khawatir jangan sampai ada ‘korban’ tambahan karena masalah ini. Karena itu beta tidak lupa mengingatkan konsekuensi dari gerakan Matoa ini. Beberapa teman lain yang lebih senior juga mengingatkan berulang-ulang. Seingat beta hanya ada satu orang teman yang memilih mengundurkan diri dari gerakan ini. Sedangkan yang lainnya sepakat dengan menggebu-gebu sambil mengungkapkan slogan: “satu keluar, semua keluar”
Gerakan Matoa berpuncak pada pembacaan pernyataan sikap hasil kesepakatan bersama lengkap dengan lampiran empat halaman berisi tanda tangan para pembuat sikap. Menanggapi hal itu, Pater Superior memutuskan meliburkan komunitas dari segala aktifitas pembinaan selama dua bulan. Selama masa perantauan, para pengikut gerakan Matoa masih sering berkumpul untuk saling meneguhkan. Tetapi perlahan-lahan mulai terlihat keragu-raguan di antara mereka. Dan akhirnya bisa ditebak: Gerakan Matoa gagal. Baru dua minggu di perantauan, semua anggota komunitas diundang untuk hadir dan berdialog bersama para staff. Yang terjadi ternyata bukanlah dialog, tetapi anggota komunitas diundang hanya untuk mendengarkan keputusan yang sudah disepakati para staff. Tidak salah memang karena beta dan semua anggota komunitas patuh pada sistem hierarki gereja dan kaul-kaul kebiaraan. Beta dengan kedua teman tetap dikeluarkan dan teman-teman lain menghadapi proses lanjut secara pribadi-pribadi. Dan dalam proses situ, banyak pribadi ‘mengakui’ bahwa mereka terpaksa dan digerakkan.Yang lebih menyakitkan ialah sesudah itu beberapa teman lain juga diminta untuk mengundurkan diri karena dianggap sebagai penggagas Gerakan Matoa.
ONE YEAR LATER
Argumen yang dipakai untuk menjudge Gerakan Matoa ialah gagasan para filsuf eksistensialisme bahwa seringkali dalam kebersamaan, otenstisitas seseorang menjadi kabur. Beta bingung. Kalo merasakan ulang atmosfer Gerakan Matoa 11 Februari 2011, kayaknya argumen para filsuf ini pantas dipertanyakan. Tetapi banyak juga tesis rasional yang membenarkan argument ini selama berpuluh-puluh tahun yang kayaknya masuk akal dan susah ditolak. Sebenarnya sikap yang mana yang otentik? Banyak anggota komunitas kemudian mengenang peristiwa 11 Februari 2011 bukan lagi sebagai Gerakan Matoa, tetapi Tragedi Matoa. Salah seorang staff mengemukakan bahwa disebut tragedi karena setan sedang merusak gereja dan tarekat melalui Gerakan Matoa. Tetapi menurut beta, tragedi yang sesingguhnya adalah ketika kita tidak mampu menentukan otentisitas diri kita masing-masing.
Gerakan Matoa berpuncak pada pembacaan pernyataan sikap hasil kesepakatan bersama lengkap dengan lampiran empat halaman berisi tanda tangan para pembuat sikap. Menanggapi hal itu, Pater Superior memutuskan meliburkan komunitas dari segala aktifitas pembinaan selama dua bulan. Selama masa perantauan, para pengikut gerakan Matoa masih sering berkumpul untuk saling meneguhkan. Tetapi perlahan-lahan mulai terlihat keragu-raguan di antara mereka. Dan akhirnya bisa ditebak: Gerakan Matoa gagal. Baru dua minggu di perantauan, semua anggota komunitas diundang untuk hadir dan berdialog bersama para staff. Yang terjadi ternyata bukanlah dialog, tetapi anggota komunitas diundang hanya untuk mendengarkan keputusan yang sudah disepakati para staff. Tidak salah memang karena beta dan semua anggota komunitas patuh pada sistem hierarki gereja dan kaul-kaul kebiaraan. Beta dengan kedua teman tetap dikeluarkan dan teman-teman lain menghadapi proses lanjut secara pribadi-pribadi. Dan dalam proses situ, banyak pribadi ‘mengakui’ bahwa mereka terpaksa dan digerakkan.Yang lebih menyakitkan ialah sesudah itu beberapa teman lain juga diminta untuk mengundurkan diri karena dianggap sebagai penggagas Gerakan Matoa.
ONE YEAR LATER
Argumen yang dipakai untuk menjudge Gerakan Matoa ialah gagasan para filsuf eksistensialisme bahwa seringkali dalam kebersamaan, otenstisitas seseorang menjadi kabur. Beta bingung. Kalo merasakan ulang atmosfer Gerakan Matoa 11 Februari 2011, kayaknya argumen para filsuf ini pantas dipertanyakan. Tetapi banyak juga tesis rasional yang membenarkan argument ini selama berpuluh-puluh tahun yang kayaknya masuk akal dan susah ditolak. Sebenarnya sikap yang mana yang otentik? Banyak anggota komunitas kemudian mengenang peristiwa 11 Februari 2011 bukan lagi sebagai Gerakan Matoa, tetapi Tragedi Matoa. Salah seorang staff mengemukakan bahwa disebut tragedi karena setan sedang merusak gereja dan tarekat melalui Gerakan Matoa. Tetapi menurut beta, tragedi yang sesingguhnya adalah ketika kita tidak mampu menentukan otentisitas diri kita masing-masing.
Hari ini tepat satu tahun Gerakan Matoa. Beta sekarang menikmati beta pu hidup di sekitaran Pineleng Permai. Satu hal yang beta yakini sejak dulu, Tuhan punya rencana di balik setiap peristiwa. Selain itu beta tetap optimis bahwa perubahan ke arah yang baik, terutama untuk mencapai otentisitas diri itu selalu mungkin. Dan untuk teman-teman yang telah menjadi korban Gerakan Matoa, secara pribadi beta minta maaf. Beta percaya Beliau Di Atas tetap menyertai torang samua dalam torang pe langkah hidup ke depan.
Rasanya belum terlalu lama beta jatuh cinta untuk Matoa, tetapi sekarang nama Matoa dikenang untuk suatu peristiwa yang kurang menyenangkan. Ah, Matoku sayang, Matoaku malang.
Rasanya belum terlalu lama beta jatuh cinta untuk Matoa, tetapi sekarang nama Matoa dikenang untuk suatu peristiwa yang kurang menyenangkan. Ah, Matoku sayang, Matoaku malang.
Sabtu, 21 Januari 2012
SIAPAKAH SAYA? Refleksi Filosofis tentang Kodrat Manusia yang Dinamis dan Unik
Oleh: Nicolas Renleuw
Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng
Siapakah
manusia itu? Bagaimana menjadi seorang manusia? Pertanyaan-pertanyaan filosofis
tersebut adalah pertanyaan yang coba dicari jawabannya oleh manusia dari masa
ke masa. Para filsuf dari berbagai zaman telah mencoba memecahkan persoalan
tersebut dengan mengemukakan berbagai definisi tentang kodrat manusia. Walaupun
demikian, tidak satupun dari definisi-definisi tersebut yang mencapai suatu
kepastian tentang siapakah manusia. Mengapa demikian? Jawabannya tidak lain
adalah karena manusia adalah makhluk yang dinamis dan unik. Rumusan definisi
apapun yang coba dikemukakan toh pada akhirnya hanyalah rumusan tentatif saja.
Kalau
memang semua rumusan tentang definisi manusia hanyalah bersifat tentatif saja,
apakah masih mungkin untuk memberikan penegasan: siapakah saya? Sehubungan
dengan persoalan ini, Marcus Aurelius menawarkan konsep to master oneself. Menurutnya, tidak penting untuk menyibukkan diri
dengan berbagai definisi tentang manusia, melainkan manusia harus berusaha
untuk menguasai diri sendiri atau menjadi tuan bagi diri sendiri. Definisi-definisi
tersebut menjadi berguna sejauh membantu manusia untuk dapat menguasai dirinya
sendiri. Dengan kata lain, usaha menjawab pertanyaan siapakah saya bukan
terutama bersifat kognitif yakni sebatas mencari tahu dan menambah pengetahuan
semata. Usaha untuk merumuskan siapakah saya sebagai manusia terutama bersifat
personal-moral, yakni untuk menguasai dan mengarahkan manusia itu sendiri.
Sebagai
seorang calon Imam yang hidup dalam era digital dengan berbagai tawaran yang
menarik, tuntutan untuk to master oneself
menjadi begitu penting. Pengetahuan atau kesadaran bahwa saya adalah seorang
calon imam, dengan segala macam tuntutan hidup dan kualitas yang harus
dimiliki, seharusnya mengarahkan saya untuk menghindari hal-hal yang
bertentangan dengan gaya hidup seorang calon imam, misalnya berpacaran, serta
bertingkah laku sebagaimana seorang calon Imam.
Lebih
jauh, Marcus Aurelius mengemukakan bahwa penguasaan diri bukan terutama
bersifat faktual, tetapi hendaknya bersifat inventif dan inovatif. Memang pada
kenyataannya, manusia adalah makhluk yang dinamis sehingga usaha untuk memahami
dan sampai pada penguasaan diri tersebut harus pula terus berjalan selama masih
menjadi manusia.
Saya
bersyukur karena selama hidup ini saya telah banyak dibantu untuk bukan hanya
memahami tetapi sekaligus menguasai dan mengontrol diri. Sejak tahap awal pembinaan sebagai calon imam,
saya telah dibekali dengan banyak pengetahuan yang mendukung untuk itu seperti
berbagai materi kuliah, seminar dan bahan-bahan pengolahan serta pengalaman
hidup lainnya dalam pembinaan yang intinya membantu saya untuk semakin
berkembang sebagai manusia. Salah satu tantangan terbesar yang memang harus
saya dan manusia mana pun hadapi adalah masalah konsistensi. Dalam bahasa
pembinaan, saya merasa bertanggung jawab untuk konsisten dalam perkembangan
diri. Konsistensi dalam perkembangan diri tidak lain berarti selalu inventif
dan inovatif seperti yang dikemukakan oleh Marcus Aurelius tersebut. Dalam
pengalaman, saya menemukan bahwa salah satu syarat atau metode agar saya dapat
mencapai perkembangan diri yang konsisten adalah adanya waktu hening, entah
melalui refleksi atau pun meditasi dan latihan rohani lainnya. Melalui
refleksi, saya dapat semakin mampu memaksimalkan segala pengetahuan atau
pengenalan diri guna membantu saya dalam mengarahkan hidup ini secara inventif
dan inovatif.
Selasa, 20 Desember 2011
...persiapan pelayanan Natal di Negeri Antah Berantah...
Fr. Toby: Nicky, ko su siap pi tugas Natal to?
Nicky: Oh iyo, beta tugas di mana?
Fr. Toby: Ko tugas di Melong, lusa berangkat...
Nicky: What? di mana itu? Sangir atau Talaud?
Fr. Toby: Zg tahu ley, pokoknya S3 lah...
Nicky: Apa itu?
Fr. Toby: Sekitar-sekitar situlah... he3
Ada dua perasaan dominan yang berkecamuk di beta pu hati mendengar kabar itu. Pertama, senang karena ini daerah baru yang belum pernah beta kunjungi. pasti agak menantang. Kedua, khawatir dan sedikit elisah kalau-kalau signal tidak menjangkau tempat tugas nanti. Selain itu, pakaian kotor menumpuk dan kamar belum dibereskan...wkwkwkwkwk
Kalau kamar n pakaian kotor masih bisa dibereskan besok. Tapi signal dank? Gawat.
Informasi penting ini segera beta sampaikan buat kekasih hati tersayang yang ada nun jauh di sana, di Tual, Maluku Tenggara. Maklum, long distance relationship. Alhamdulilah, dia mengikhlaskan beta untuk menjalankan tugas mulia ini (ceile...).
Ada signal? Pertanyaan ini terasa begitu penting ketika seseorang mendapatkan tugas perutusan. Signal menjadi bagian integral dari kehidupan. Bahkan telah menjadi kebutuhan paling primer dalam kehidupan masyarakat modern. Lebih parah lagi ada seorang sahabat yang telah merasa bahwa signal adalah salah satu anggota tubuhnya. Ckckcckckck. Menurut teori-teori yang beta dapat sewaktu mengikuti pembinaan kurang lebih 5 tahun sebagai frater Misionaris Hati Kudus Yeus (MSC) dulu (pamer nie yee...), inilah yang disebut kelekatan. Kelekatan dengan berbagai hal sering membuat beta menjadi susah untuk hening sejenak dan merefleksikan kehidupan. Signal adalah salah satu kosakata kecil dalam Kamus Besar Teknologi yang akhir-akhir ini membuat beta terlalu melekat. Aneh. Padahal, menurut Pastor Salettia yang sudah sering melanglang buana di negara-negara maju, para pencipta dan pengekspor teknologi di sana berlomba-lomba untuk mencari keheningan dan ketentraman batin. Sedangkan beta, dan mungkin banyak penduduk di negara tercinta Indonesia ini (yang terlibat angkat tangan..he3), yang cuma sering mengimpor teknologi justeru menjadi susah untuk menenangkan diri. Yah, mudah-mudahan ini bisa menjadi langkah awal untuk berefleksi dan membaharui diri khususnya menjelang hari Natal Kristus ini.
"Ka' Nicky, ka' Nicky pe pakaian yang ada rendam ini k?"
Suara Santi, ade sekontrakan, dari balik jendela kamar menyadarkan beta bahwa beta belum selesai membereskan PR. Wah, belum apa-apa sudah terikat lagi dengan teknologi. he3. Maklum, manusia. Alasan klasik untuk membenarkan diri yang sering digunakan makhluk berakal budi dan paling mulia di dunia ini. Cucian, I'm cooming!
Langganan:
Postingan (Atom)














